Suatu sore, ketika hujan turun lebih deras, Sasha menatap gelas yang hampir tumpah, lalu beralih ke Rizky. “Kamu tahu, Sasaki,” katanya dengan suara serak, “aku suka sesuatu yang besar… bukan hanya dalam seni, tapi… ya, dalam… hal‑hal lain.”
Rizky mengusap rambutnya, menutup mata, menikmati keheningan yang hangat. “Aku juga, Sasha. Kita menemukan satu sama lain dalam kejujuran dan persetujuan. Ini bukan sekadar ‘otong besar’, melainkan keintiman yang kita ciptakan bersama.” Suatu sore, ketika hujan turun lebih deras, Sasha
Sasha menunduk, menatap latte art yang kini berubah menjadi gambar hati. “Aku suka otong… otong besar. Bukan sekadar ukuran, tapi kekuatan, kehangatan, dan… sensasi yang mengalir.” Ia menatap mata Rizky, seolah menantang. ketika hujan turun lebih deras