(Sendirian, menatap laut) Malin... Ibu tetap mencintaimu, Nak. Ibu hanya ingin kau jujur pada dirimu sendiri. (Air mata jatuh) Sekarang kau menjadi batu. Batu peringatan bagi anak-anak durhaka.
(Menyela dengan sinis) Dasar perempuan tua gila. Suamiku adalah saudagar terpandang. Mana mungkin ibunya seperti pengemis jalanan.
(Menarik lengan Malin) Ayo, Malin. Jangan buang waktu dengan pengemis kurang ajar ini. Suruh dia pergi.
Ma, Ibu harus kuat. Malin tidak tahan lagi melihat Ibu bekerja keras setiap hari. Malin akan pergi ke kota, kaya raya, lalu kembali menjemput Ibu. naskah drama malin kundang 4 orang
(Sambil menangis) Nak, Malin... apakah kau benar-benar harus pergi? Siapa yang akan merawat ibumu yang sudah tua ini?
(Tersinggung) Apa? Suamiku seorang saudagar besar lahir dari tempat sekotor ini? Jangan bercanda, Malin.
(Kaget) Apa? Malin, ini Ibu, Mande Rubayah. Lihat, ini tahi lalat di tanganmu! Kau lahir dari perut Ibu! (Sendirian, menatap laut) Malin
Di sebuah desa nelayan, hiduplah seorang pemuda bernama Malin Kundang bersama ibunya, Mande Rubayah. Kemiskinan membuat Malin bertekad untuk merantau ke kota.
(Berdoa dengan suara parau) Ya Allah... jika dia benar anakku, maafkan dia. Tapi jika dia tega pada ibunya... tunjukkan keadilan-Mu.
Durhaka Seorang Anak
Ibu akan berdoa setiap hari. Pulanglah, Nak. Jangan lupakan Ibu.
(Mundur selangkah, tegang) Ibu... Maksudku, nenek. Aku tidak kenal siapa kau. Jangan mengaku-aku sebagai ibuku.
(Menangis histeris) Ibu! Ibu! Maafkan Malin! Malin salah! TOLONG... IBU... (Air mata jatuh) Sekarang kau menjadi batu
(Berteriak lirih) Malin? Malin Kundang? Itu kau, Nak? Ibu... Ibu tidak salah lihat?